Cerita Tim AFP, Pewarta Dunia Terakhir di Wuhan

Foto orang mengemudi di malam hari
Foto: Cottonbro Studio/Pexels

Tiga pewarta dari kantor berita Prancis AFP menceritakan pengalaman mereka sebagai tim perwakilan berita internasonal yang terakhir dievakuasi saat meliput wabah Corona di Wuhan, China. Mereka keluar dari Wuhan pada Jumat (31/1) menuju Prancis. 

Ketiga pewarta itu adalah pewarta video Leo Ramirez, pewarta foto Hector Retamal, dan pewarta tulis Sebastien Ricci. Mereka berada di Wuhan selama delapan hari untuk menyampaikan cerita penting wabah Corona sambil memastikan tidak menjadi bagian dari cerita tersebut karena terpapar virus. 

Ramirez menyatakan bahwa rasa takut akan wabah Corona menghantui pikirannya. Selama 10 tahun bersama AFP, rekaman video di Wuhan adalah yang paling membuatnya emosional. Terlihat wajah-wajah sedih sekaligus berani menghadapi virus, ratusan sukarelawan mempertaruhkan nyawa, dan staf medis yang bekerja tanpa henti. Lebih dari 10 ribu orang terinfeksi dan 300 orang meninggal. 

Tidak ada jalan mudah dan aman untuk melawan musuh yang tak terlihat. Tetapi, beberapa hal dapat dilakukan untuk mengurangi peluang tubuh terkontak virus. Di antaranya dengan menggunakan masker wajah, sarung tangan bedah, kacamata debu sepanjang waktu, mencuci tangan, makan, serta meminum vitamin secara teratur. 

Selama tinggal di hotel, setiap penghuni diukur temperaturnya oleh pegawai dan diperbolehkan masuk ketika suhunya di bawah 37 derajat Celcius. Hari ketiga, ketakutan terbesar Ramirez muncul ketika suhu tubuhnya menunjukkan angka 37,6. Terkadang termometer bisa mati, maka tanpa perlu panik, suhu diukur kembali hingga kali ketiga dan menunjukkan angka yang sama. Saat itu, ia dan orang-orang di sekitarnya mulai merasa takut. 

Kemudian, pegawai hotel mengukur temperatur Ramirez menggunakan termometer yang berbeda dan hasilnya 36,6 derajat Celcius. Akhirnya, semua orang di sana bisa bernapas sedikit lebih lega.

Setiap hari, tim AFP meninggalkan hotel dengan tangan kosong dan kembali dengan banyak informasi. Ramirez merasa tidak ingin pergi dari Wuhan. Seharusnya ia tetap berada di sana dan mengabadikan segala hal yang terjadi. 

Sementara Ricci mengatakan, “Wuhan terasa seperti kota hantu ketika kami sampai di sana. Pesawat yang kami naiki nyaris kosong, hanya ada 30 orang, mayoritas orang Cina yang akan kembali bergabung dengan keluarganya, dan mereka pun menatap kami dengan nanar”. 

Ketika pesawat mendarat, bandara sepi, jalan raya lengang, tidak ada seorang pun di jalanan. Sekitar tahun baru Imlek, sebagai hari libur terpenting di Cina, biasanya jalan dipenuhi orang-orang yang bersiap atau bersuka ria untuk liburan, tetapi waktu itu jalanan benar-benar mencolok, kosong. 

Sudah menjadi sifat Ricci untuk pergi ke tempat-tempat sulit, seperti Afghanistan, Iran, dan Kurdistan. Di sanalah tempat-tempat sulit saat kehangatan terbesar manusia terlihat dan adanya pertemuan paling berkesan dengan keberadaan manusia lain. Demikian pula di Wuhan.

Sehari sebelum mereka dievakuasi, Ricci panik ketika Ramirez menelepon. Ia meminta Ricci segera datang ke jalan dekat rumah sakit. Sesampai di sana, terlihat seorang lelaki bermasker putih tergeletak di jalan. Polisi berdiri mengelilinginya tanpa ada satupun yang mendekat. Tidak dapat dipastikan ia meninggal karena virus atau bukan. Namun pria itu dibiarkan tergeletak selama dua jam di jalan yang hanya berjarak 50 meter dari pintu masuk rumah sakit. 

Adapun Retamal telah meliput banyak hal seperti ini sebelumnya. Pada 2010, wabah kolera membunuh lebih dari 9 ribu orang di Haiti. Ia tinggal di tenda gurun selama tiga bulan untuk meliput kisah 33 penambang yang terjebak 700 meter di bawah tanah di Chili. 

Satu yang mengagetkan Retamal adalah masyarakat lokal sangat antusias untuk berbagi cerita kepada wartawan. Hal ini tidak sering terjadi di Cina. “Ketika meliput sesuatu seperti ini, jangan pernah dilupakan. Semuanya tampak mengejutkan, tetapi saya harus tetap melakukan pekerjaan dengan baik,” ujarnya. 

Baca Juga: Pihak Terlapor Kurang, Pengadilan Tolak Gugatan Fotografer ke Tribunnews

Penulis: Siti Masruroh

Siti Masruroh; alumni Sastra Jawa yang sebagian waktunya dihabiskan dengan belajar, baca, dan nulis biar nggak lupa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *