Film “Semesta”, Kisah Lilin-Lilin Penerang yang Menjaga Indonesia

Foto poster film Semes7a
Foto: Dok. Tanakhir Films

“Semesta” adalah film dokumenter yang memotret usaha menjaga keseimbangan alam, atas dorongan agama, kepercayaan, dan budaya. Film ini masuk sebagai nomine Film Dokumenter Panjang Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2018. 

Tak cuma itu, “Semesta” juga terseleksi dan diputar pada SUNCINE International Environmental Film Festival, sebuah festival khusus untuk film dokumenter bertema lingkungan di Barcelona, yang digelar pada 6-14 November 2019. Film produksi Tanakhir Films ini digarap oleh sutradara Chairun Nissa dengan produser Mandy Marahimin dan Nicholas Saputra.

Menurut Mandy, proses pembuatan film ini memakan waktu hingga empat bulan. Setelah ditentukan durasinya 90 menit, timnya memutuskan untuk mengangkat tujuh tokoh dari tujuh wilayah Indonesia. 

“Setelah riset, kami mendatangi ketujuh wilayah tersebut untuk mendokumentasikan usaha menjaga keseimbangan alam atas dorongan agama, kepercayaan, dan budaya, sesuai jadwal masing-masing,” ungkap Mandy saat pemutaran film “Semesta” yang diadakan oleh Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru di Cinema XXI Plaza Senayan, Selasa (18/2). 

Film dibuka dengan kisah Tjokorda Raya Kerthyasa dan umat Hindu Bali yang melaksanakan Nyepi. Hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun baru Saka ini layaknya tombol pause untuk penggunaan listrik, transportasi, dan industri. Efek pengurangan emisi harian yang luar biasa di Bali disebabkan oleh satu hari dari setahun ini. 

Kisah berlanjut ke Agustinus Pius Inam, Kepala Suku Dayak Iban di Sungai Utik, Kalimantan Barat. Bersama penduduk Suku Dayak Iban, tradisi dan hukum adat pengelolaan wilayah hutan dijunjung tinggi. Dengan demikian, ekosistem hutan tetap terjaga.

Kemudian, beralih ke wilayah Bea Muring, Manggarai, Nusa Tenggara Timur dengan Romo Marselus Hasan, pemimpin agama Katolik. Romo dan masyarakat mengembangkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro setelah menggunakan genset yang menimbulkan polusi udara dan suara. Pemanfaatan energi baru dan terbarukan yang ramah lingkungan ini dijadikan solusi pemerataan listrik bagi masyarakat setempat.

Selanjutnya kisah Almina Kacili, kepala kelompok perempuan gereja di Kapatcol, Papua Barat. Bersama ibu-ibu anggota kelompoknya, Almina turut menjaga keseimbangan ekosistem laut dengan Sasi, tradisi untuk melindungi laut dengan periode pengambilan biota yang telah ditentukan.

Berpindah ke Indonesia bagian barat, ada Muhammad Yusuf, seorang imam di Desa Pameu, Aceh. Bersama masyarakat setempat, ia lebih memilih untuk berdamai dibanding membunuh gajah-gajah yang merusak ladang dan permukiman. Adanya kesadaran bahwa perusakan oleh gajah tersebut disebabkan pembabatan hutan menjadikan Muhammad selalu mengingatkan penduduk untuk menjaga ekosistem hutan. 

Dilanjut Iskandar Waworuntu dan keluarga yang melakukan praktik thayyib (baik), berkebun dengan ilmu permakultur. Berbekal tanah berwujud rumah dan kebun di Yogyakarta, mereka berusaha menjalin hubungan baik dengan alam dan bersedia mengajari orang-orang yang tertarik dalam bidang tersebut.

Film ditutup dengan kisah Siti Soraya Cassandra, petani urban pendiri Kebun Kumara di tengah padatnya ibu kota Jakarta. Bersama suami dan adiknya, ia mengampanyekan prinsip belajar dari alam dan menghijaukan tanah kota secara kreatif.

Sejalan dengan pesan film ini, mengutip perkataan Bung Hatta, “Indonesia tidak akan bercahaya karena obor di Jakarta, tapi Indonesia akan bersinar karena lilin-lilin di desa”. Tujuh tokoh ibarat tujuh lilin penerang tersebut menunjukkan bahwa usaha memelankan dampak perubahan iklim dapat dilakukan melalui langkah kecil sebagai individu maupun masyarakat. Tentunya dengan tetap mempertahankan konsep agama, kepercayaan, dan budaya khas Indonesia.

Baca Juga: Cerita Tim AFP, Pewarta Dunia Terakhir di Wuhan

Penulis: Siti Masruroh

Siti Masruroh; alumni Sastra Jawa yang sebagian waktunya dihabiskan dengan belajar, baca, dan nulis biar nggak lupa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *