Media sosial telah menjadi ruang utama bagi banyak orang untuk mencari informasi, hiburan, atau sekadar bersosialisasi. Di Indonesia, pengguna media sosial rata-rata menghabiskan 3 jam 14 menit setiap hari, menjadikan negara ini peringkat ke-9 dalam konsumsi media sosial global, menurut Databoks Katadata (2024).
Ketika menggunakan media sosial, orang cenderung membaca secara cepat dan menghindari konten yang terlalu panjang atau tidak jelas. Di sisi lain, fenomena berita bohong (hoaks) yang kerap tersebar membuat publik kesulitan memilah informasi yang benar. Dalam kondisi seperti ini, gaya jurnalistik yang ringkas, informatif, dan berbasis data menjadi kunci bagi mereka yang ingin memproduksi konten yang menarik sekaligus kredibel.
Herita Endriana, Co-Founder Aksara Institute yang juga bekerja sebagai jurnalis selama lebih dari 20 tahun, menjelaskan, membuat konten media sosial dengan gaya jurnalistik merupakan salah satu cara menawarkan konten yang memikat.
“Gaya penulisan jurnalistik itu nggak bertele-tele, nggak ambigu, dan kaya diksi, jadi mampu membuat pesan di media sosial lebih mudah dipahami. Gaya ini juga bikin pembaca langsung menangkap inti informasi tanpa terjebak pada detail yang nggak relevan,” kata Herita dalam agenda Bincang Aksara (BICARA) #8 bertajuk “Menulis Gaya Jurnalistik untuk Media Sosial”, Rabu (04/12/24).
Menurut Herita, pendekatan gaya jurnalistik dapat diterapkan di platform seperti Instagram, X (dulu Twitter), atau TikTok, yang audiensnya sering kali hanya memiliki waktu beberapa detik untuk memutuskan apakah mereka akan terus membaca atau menggulir layar. Herita juga membagikan tips untuk membuat konten yang kredibel dan relevan untuk audiens dengan pendekatan jurnalistik.
Pertama, mengumpulkan data dari sumber tepercaya. Kedua, pastikan untuk mengecek fakta dan memastikan informasi yang disampaikan tidak menyesatkan. Ketiga, kesesuaian pesan dengan audiens yang disasar menjadi faktor penting. Sudut pandang (angle) konten harus disesuaikan agar pesan lebih relevan dan mudah diterima.
“Setelah kita liputan, ngumpulin riset, kemudian semua itu kita olah. Data yang kita peroleh nggak mungkin kita masukin semua. Kalau di jurnalistik itu namanya angle tulisan, sudut pandang mana yang mau kita kasih. Jadi, walaupun ada data yang bagus, tapi nggak sesuai dengan angle itu, ya kita buang, kita bikin di tulisan lain nantinya,” ujar Herita.
Pada akhirnya, menjadi kreator konten yang bertanggung jawab adalah cara terbaik untuk membangun kredibilitas sekaligus membuat perbedaan dalam era digital yang serbacepat ini. “Banyak akun informasi di media sosial yang kurang mengindahkan etika jurnalistik, sehingga berpotensi menyebarkan misinformasi atau hoaks. Padahal, sebagai pembuat konten, tanggung jawab ada di tangan kita untuk tidak ikut menyebarkan informasi yang salah,” Herita menegaskan.
Baca Juga: Dewan Pers: Judul “Pinokio” Majalah Tempo Melanggar Pasal Akurasi
Penulis: Yazed Sururi
Yazed Sururi; seorang pencinta literasi dan pengagum dunia jurnalistik, terus mengasah keterampilan menulis berbasis data