Cara media massa Korea memberitakan kasus Lee Sun-kyun menjadi salah satu yang disorot dalam laporan Reuters Institute dalam Digital News Report 2024 untuk industri media massa di Korea Selatan. Diterbitkan pada 17 Juni 2024, peneliti senior Korea Press Foundation, Hyunwoo Lee, menulis bahwa kritik dilontarkan terhadap media Korea yang melaporkan berita dengan hanya bertumpu pada sensasi belaka.
Pertanyaannya, mengapa media Korea senang membuat berita yang sensasional? Hyunwoo menyatakan bahwa ini adalah dampak perpindahan dari platform tradisional ke daring. Perubahan ini membuat fokus media berpindah dari membuat berita yang berkualitas sesuai standar jurnalistik ke usaha untuk meraih perhatian publik sebanyak-banyaknya.
“Hal ini berkontribusi pada lahir dan menyebarnya berita berkualitas rendah dan sensasional,” ujar Hyunwoo.
Ia juga mengaitkan hal tersebut dengan meningkatnya penggunaan media sosial seperti YouTube, yang ikut mempermudah penyebaran berita dan tuduhan kepada selebritas tanpa adanya verifikasi.
Di luar laporan Hyunwoo Lee, budaya masyarakat Korea juga berperan pada kemunculan berita-berita sensasional dan tidak bertanggungjawab, dikenal dengan istilah jurnalisme kuning. Ini adalah praktik ‘jurnalistik’ yang sudah dikenal sejak akhir 1800-an.

Menurut profesor sosiologi Universitas Kyung Hee, Song Jae-ryong, masyarakat Korea Selatan adalah masyarakat yang kolektif, yang sangat menjunjung tinggi konformitas dan kepatuhan, serta punya kecenderungan yang kuat untuk memihak.
Mereka yang berbeda, termasuk selebritas, menjadi kurang disukai sekaligus juga korban dari ekspektasi tinggi masyarakat. “Orang-orang mempunyai perasaan tidak enak terhadap kehidupan mereka yang berbeda, dan cenderung kurang toleran terhadap setiap pelanggaran moral atau etika yang dianggap salah,” ujarnya pada Korea Times dalam artikel yang dirilis pada April 2021.
Kritikus budaya pop Kim Hern-sik menambahkan, struktur sosial kolektif menempatkan standar moral di atas privasi individu. Ini membuat selebritas tunduk pada kode etik yang ketat.
Selain itu, Korea juga memiliki struktur media yang terpusat, meski kini mulai digoyang oleh media sosial. “Jadi jika sebuah isu diangkat oleh beberapa media, maka isu tersebut akan menyebar dengan cepat dan berdampak besar pada masyarakat,” kata Hern-sik.
Dari laporan Digital News Report 2024 Reuters Institute, KBS News dan MBC News jadi sumber berita yang paling banyak digunakan secara luring oleh masyarakat Korea. Dari 2.015 responden, masing-masing stasiun TV mendapatkan 39% dan 38% yang rutin menonton berita dari stasiun TV ini setiap minggunya.

Konsumsi media oleh masyarakat Korea Selatan. Foto: Reuters Institute
Adapun JTBC News dan YonhapNews TV ada di urutan ke-5 dan ke-6 dengan angka sama, 31%. Adapun secara daring, KBS ada di posisi ke-2 (22%) di bawah Naver, MBC di posisi ke-4 (21%), YonhapNews TV dan JTBC ada di posisi ke-7 dan ke-8 dengan 17%.
Besarnya konsumsi informasi yang bersumber dari keempat stasiun TV ini – yang ikut berkontribusi pada berita sesat tentang selebritas – menjadi bukti betapa mudahnya berita tentang selebritas diterima dan menyebar, yang pada akhirnya berpotensi membentuk opini publik dan memengaruhi hidup seorang individu secara langsung, seperti yang terjadi pada Lee Sun-kyun.
Kultur masyarakat Korea yang menempatkan standar moral di atas privasi individu juga tercermin dengan lahirnya media daring bidang hiburan bernama Dispatch pada 2010. Dibuat dalam bahasa Korea dan Inggris, Dispatch menjadi media yang sangat populer baik di Korea maupun global, dengan pengikut mencapai 13 juta akun di Instagram.
Dispatch kerap menerbitkan laporan berlabel “eksklusif” terkait selebritas Korea, mulai dari gosip kencan hingga skandal. Mereka bergerak seperti paparazi, menguntit selebritas dan memajang bukti foto-foto kencan sembunyi-sembunyi tokoh terkenal di media mereka. Dalam budaya selebritas Korea, bahkan kencan bisa dianggap sebuah skandal dan jadi sangat newsworthy.

Media daring Dispatch versi bahasa Korea. Foto: screenshot Dispatch
Dalam profilnya, Dispatch mengklaim bahwa mereka “menyajikan konten yang dapat dipercaya”. Meski mengundang pro dan kontra karena sistem kerjanya kerap melanggar privasi selebritas, nyatanya konten-konten Dispatch selalu direproduksi oleh blog-blog atau akun-akun media sosial yang kerap dianggap sebagai media massa oleh penggemar budaya Korea, misalnya Allkpop dan Koreaboo dengan jumlah view yang banyak.
Selama berita-berita sensasional terus mengundang klik dan penonton, serta banyak saluran untuk menyebarkannya, maka media massa hampir pasti akan terus memproduksi konten jurnalisme kuning. Tinggal audiens yang harus memiliki kemampuan berpikir kritis, agar tidak tertelan dalam pusaran misinformasi dan disinformasi, serta mampu membedakan berita terkait ranah publik dan privasi.
Tulisan pertama : Media Korea: saat Reputasi Tunduk pada Sensasi (1)
Tulisan kedua : Media Korea: Sanksi Ringan, Kesalahan Berulang (2)
Penulis: Herita Endriana
Herita Endriana; senang berbagi pengetahuan dan menonton apa pun, termasuk nonton video kucing