Media Korea: saat Reputasi Tunduk pada Sensasi (1) 

Foto pemberitaan di televisi
Foto: Tim Mossholder/Pexels

Dalam waktu berdekatan, tiga artis besar Korea Selatan menjadi bulan-bulanan media massa negaranya. Di antara pelakunya bahkan media-media besar berusia puluhan tahun, juga dimiliki pemerintah, tapi bergerak bak jurnalisme kuning yang mengabaikan standar jurnalistik. 

Pada 7 Agustus 2024 pagi, beredar kabar dari Seoul: Suga BTS terjerat kasus DUI (Driving Under Influence) atau berkendara dalam kondisi mabuk. Ini jadi berita besar di Korea karena selain nama besar grupnya, selama ini Suga relatif bersih dari skandal, ditambah saat itu ia juga tengah menjalani wajib militer sebagai pekerja sosial. 

Tak heran, kabar besar ini langsung disambut media massa lokal dengan guyuran artikel tentang insiden tersebut. Penggemar BTS menghitung, ada ratusan artikel dibuat hanya dalam sehari, dan mencapai ribuan dalam waktu seminggu. Sebagai perbandingan, jumlah ini lebih banyak dibanding berita tentang prestasi BTS meraih nominasi Grammy Awards

Tak berapa lama setelah berita awal dirilis, Suga langsung meminta maaf di media sosial Weverse.  Ia mengakui kesalahannya, menjelaskan kronologi yang terjadi pada 6 Agustus malam saat peristiwa itu terjadi, sambil menyatakan bahwa tidak ada orang yang terluka dan properti yang rusak akibat insiden tersebut. Sebagai hukuman, ia mengaku mendapatkan sanksi pencabutan SIM dan denda dari kepolisian.

Foto grup musik BTS
Foto: X @bts_bighit

Sampai di sini, kasus seharusnya sudah selesai. Namun nyatanya, media terus menayangkan berita-berita terkait insiden itu, yang isinya kebanyakan adalah spekulasi dan misinformasi.

Dua contoh paling fatal adalah dari dua media besar JTBC dan YonhapNews TV. Yang disebut pertama adalah salah satu stasiun TV berbayar terbesar di Korea. Sedangkan Yonhap adalah kantor berita Korea Selatan, yang juga menyebarkan beritanya melalui kanal YouTube YonhapNews TV dengan pelanggan 1,7 juta akun.

Program Newsroom JTBC dan YonhapNews TV sama-sama merilis CCTV – masing-masing pada 7 Agustus dan 13 Agustus – yang mereka sebut merekam tindakan Suga yang mabuk saat mengendarai electronic scooter. CCTV yang dirilis Yonhap bahkan menyatakan bahwa Suga tersungkur di jalan karena mabuk berat. Dua CCTV dari media besar ini membuat publik jadi meragukan kronologi versi Suga, bahkan sampai ada yang menyebut sang artis berbohong besar.

Cuplikan CCTV dari Yonhap News TV terkait kasus Suga. Foto: Sports Chosun via Naver

Belakangan, terbukti bahwa CCTV yang disebarkan JTBC dan YonhapNews TV salah alias tidak berkaitan dengan Suga. JTBC meminta maaf dalam program yang sama, sedangkan Yonhap hanya meminta maaf di postingan Community di kanal YouTube berbahasa Inggris mereka (KOREA NOW), padahal berita tentang CCTV itu dirilis dalam program berita berbahasa Korea.

Suga bukan artis pertama yang jadi mangsa media dan citranya dirusak dalam rentang waktu setahun ke belakang. Pada enam bulan sebelumnya atau Oktober 2023, aktor terkenal pemain Film Peraih Piala Oscar Parasite, Lee Sun-kyun, serta bintang K-pop G-Dragon juga jadi ‘mainan’ media Korea karena isu penggunaan narkoba.

Lee Sun-kyun dan G-Dragon. Foto: Hodu&U Entertainment, Instagram @xxxibgdrgn

Lagi-lagi JTBC, media ini merilis video yang sudah diedit untuk menciptakan kesan bahwa G-Dragon melakukan gerakan-gerakan mencurigakan yang identik dengan perilaku pengguna narkoba. Pada akhirnya, JTBC melalui anchor dan jurnalisnya yang memiliki reputasi terhormat, Yang Won-bo, meminta maaf pada G-Dragon karena telah menyiarkan berita yang menyesatkan. 

Sayangnya, Lee Sun-kyun jadi contoh artis yang kalah dengan serangan berita media massa. Kala itu, dua stasiun TV nasional terbesar di Korea yaitu MBC, serta KBS yang dimiliki oleh pemerintah pusat, merilis percakapan dalam ranah privasi berupa suara dan teks sang aktor yang tidak ada hubungannya dengan kasus narkoba yang tengah menjeratnya.

Perilisan ini menjadi bensin bagi publik untuk makin menyudutkan dan menghina sang aktor. Meski akhirnya  ia terbukti negatif narkoba, tapi tiga hari setelahnya Lee Sun-kyun memilih mengakhiri hidup pada 27 Desember 2023. 

Apa sanksi yang didapatkan keempat stasiun TV tersebut akibat melanggar standar dan etika jurnalistik? Mengapa pula media di Korea senang menulis berita sensasional? Baca bagian kedua Media Korea: Sanksi Ringan, Kesalahan Berulang (2) dan ketiga Media Korea: Berita Sensasional, Cermin Budaya Masyarakat (3)  tulisan ini. 

Penulis: Herita Endriana

Herita Endriana; senang berbagi pengetahuan dan menonton apa pun, termasuk nonton video kucing

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *