BICARA #11: Framing Media dalam Pemberitaan #IndonesiaGelap

Foto Wisnu Prasetya pembicara BICARA #11 Aksara Institute
Foto: Tangkapan layar Aksara Institute

Aksara Institute kembali menggelar diskusi publik dalam Bincang Aksara (BICARA) #11, bertajuk “#IndonesiaGelap: Pemberitaan Media dan Masa Depan Jurnalisme Kita”. Diskusi menghadirkan Wisnu Prasetya Utomo selaku peneliti sekaligus dosen Ilmu Komunikasi UGM serta Yovantra Arief sebagai Direktur Eksekutif Remotivi. Acara dihadiri oleh lebih dari 80 peserta melalui aplikasi Zoom pada Sabtu (8/3).

Tagar #IndonesiaGelap ramai dibicarakan di media sosial, khususnya di X (dulu Twitter) sejak pertengahan Februari 2025. Tagar ini dipicu oleh berbagai keputusan pemerintah yang dinilai publik tidak berpihak kepada rakyat, yang akhirnya mendorong terjadinya demonstrasi sejak 17 Februari.

Menariknya, peran media arus utama dalam meliput aksi-aksi demonstrasi tersebut menuai beragam pertanyaan. Khususnya CNN Indonesia; media yang dimiliki Transmedia Group milik pengusaha Chairul Tanjung. Dari 39 berita yang diterbitkan, mayoritas menggambarkan sisi negatif dari massa aksi.

Namun menurut Wisnu, bukan hanya CNN Indonesia yang melakukan hal tersebut. Dalam analisisnya yang fokus pada tiga media cetak arus utama (Kompas, Media Indonesia, dan The Jakarta Post), ketiganya tidak menjadikan berita demonstrasi sebagai prioritas utama, yang bisa dilihat dari berita utamanya (headline).

Framing negatif terhadap demonstran yang dilakukan CNN Indonesia juga umumnya dilakukan oleh media daring lainnya. Pemberitaan tentang tujuan dan tuntutan demonstran yang diajukan untuk pemerintah malah minim.

Menurut Wisnu, hal ini tidak lepas dari para pemilik media yang kini terjun ke dunia politik, baik itu menjadi ketua partai atau bergabung ke dalam struktural pemerintahan, yang akhirnya melahirkan politisasi media.

Dirinya juga mengatakan momentum tagar Indonesia Gelap terjadi bersamaan dengan kasus korupsi yang dilakukan oleh politikus, serta pelantikan dan retreat kepala daerah. Hal ini menyebabkan terpecahnya konsentrasi liputan di media arus utama sehingga peliputan massa aksi demonstran hanya dilihat sebagai irisan yang tak utuh; cenderung menyudutkan demonstran.

“Dari sisi kontennya, ada jarak antara keresahan yang ada di publik dengan di media. Keresahan ini merata di berbagai daerah, tapi tidak tergambar di media,” ujar Wisnu yang kini sedang menempuh program doktor dengan fokus jurnalisme, media, dan komunikasi di Universitas Sheffield, Inggris.

Adapun menurut Yovantra, yang biasa disapa Yoyon, pola pemberitaan semacam itu bukanlah suatu hal baru. Dalam observasinya bersama Remotivi, hal yang sama terjadi ketika massa aksi Reformasi Dikorupsi pada 2019 dan UU Cipta Kerja tahun 2020. Tidak ada perbedaan signifikan dari model pemberitaan pada massa aksi tersebut dengan #IndonesiaGelap.

“Media membutuhkan spectacle atau tontonan. Kalau misalnya aksi enggak ada tontonannya, enggak ada yang rusuh atau apa gitu, ya, enggak akan diberitain. Enggak rusuh enggak seru. Ini jadi problema tersendiri nantinya,” ujar Yovantra.

Untuk mengimbangi framing dari media, Yovantra mendorong publik untuk ikut berkontribusi dalam memproduksi dan mendistribusikan informasi. Contoh yang kini tengah populer misalnya adalah dengan keberadaan media alternatif dan homeless media yang dikelola masyarakat lokal.

Menurutnya, dibutuhkan penguasaan melakukan metode jurnalistik pada komunikasi warga agar ada kritisi terhadap pemberitaan atau opini yang beredar.

Penulis: Fauzi Ibrahim

Fauzi Ibrahim; alumni Kelas Daring Literasi Media (KDLM) ke-6

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *