Semenjak peristiwa 7 Oktober 2024, yaitu serangan Hamas ke penjajah Israel, jurnalis serta media internasional sulit mendapatkan akses untuk meliput konflik yang terjadi di Palestina, utamanya di Gaza.
Jurnalis CNN asal Amerika Serikat Clarissa Ward adalah satu-satunya wartawan asing yang mendapat akses untuk meliput di Gaza; tanpa pendamping militer. Ia masuk bersama sukarelawan medis asal Uni Emirat Arab (UAE).
Puncaknya, ketika eskalasi konflik meningkat, pada 8 Januari 2024. Mahkamah Agung Israel memperketat akses jurnalis dan media asing yang ingin meliput. Satu-satunya akses liputan harus melalui persetujuan militer Israel Defence Forces (IDF).
Hal tersebut berarti menolak banding organisasi media internasional yang meminta akses independen, tanpa pendampingan militer untuk akses meliput di Gaza. Pemblokiran media yang terjadi meninggalkan pekerjaan besar besar bagi media internasional untuk mendapatkan informasi yang faktual dan aktual.
Jurnalisme Warga Mengambil Peran
Mengutip Britanica.com, jurnalisme warga adalah jurnalisme yang dilakukan jurnalis non-profesional yang menyebarluaskan informasi menggunakan situs web, blog, dan media sosial.
Profesor jurnalisme Mohsen Al-Ifranji, mengutip Al-Jazeera, mengatakan jurnalisme warga sebagai fenomena yang signifikan, khususnya di Timur Tengah setelah peristiwa Arab Spring. Ia menggarisbawahi bahwa satu-satunya alat yang dibutuhkan oleh jurnalis warga adalah gawai dan internet serta media sosial.
Dengan akses liputan yang terbatas, jurnalisme warga datang mengambil peran. Warga Palestina turun mendokumentasikan kekejaman yang dilakukan Israel ke seluruh dunia. Hal ini pada akhirnya membuat solidaritas pro-Palestina oleh warga dunia semakin menguat
Jurnalisme warga berdasarkan fungsinya, mengutip dari artikel ilmiah Citizen Journalism vs Professional Media During Crisis karya Šejn Husejnefendić (jurnal Društvene i humanističke studije, 2016) dibagi menjadi dua kategori, yaitu:
- Jurnalisme warga bisa setara dengan jurnalisme profesional pada negara-negara yang memiliki nilai demokrasi yang tinggi.
- Jurnalisme warga bisa menjadi penyuplai untuk media arus utama, bahkan terkadang menggantikan posisi mereka dalam sebuah negara yang memiliki nilai demokrasi yang rendah.
Associate Professor, School of Journalism and Mass Communication, University of. Wisconsin-Madison, Lindsay Palmer, mengatakan bahwa jurnalisme warga bisa membantu warga dunia melihat dan mengerti konflik yang tidak muncul di permukaan.
“Saat akses koresponden terbatas seperti di Gaza, jurnalis warga bisa memberikan foto dan informasi yang benar-benar sedang terjadi secara ideal,” ujar Palmer mengutip Center for Journalism Ethics dalam artikel yang terbit pada Januari 2024.
Jurnalis Warga di Palestina
Warga Palestina hadir sebagai jurnalis warga untuk mengisi posisi jurnalis profesional yang hilang. Bermodal gawai, internet, dan media sosial, mereka maju sebagai ujung tombak untuk menyebarluaskan peristiwa yang benar-benar sedang terjadi di negaranya.
Motaz Azaiza adalah salah satu dari sekian banyak jurnalis warga Palestina. Ia adalah jurnalis foto yang menggunakan akun Instagram pribadinya dalam penyebaran informasi.
Melansir Advocating Peace, pengikut Instagram miliknya secara signifikan kian bertambah. Sebelum peristiwa 7 Oktober, pengikutnya hanya berjumlah sekitar 25 ribu. Per 17 Oktober 2024, pengikutnya berjumlah satu juta, dan per artikel ini ditulis pengikutnya nyaris menyentuh angka 17 juta.
Hal tersebut menandakan pentingnya informasi yang diunggah Motaz bagi mereka yang haus informasi terkini tentang Gaza. Di pengujung 2023, GQ Middle East memberikan penghargaan “Man of the Year” kepada Motaz atas dedikasi dan keberaniannya dalam meliput dan menyuarakan kebenaran.
Lalu ada Oday Basheer, mahasiswa teknologi informasi di salah satu universitas di Gaza, juga turut mengambil peran sebagai jurnalis warga. Melalui format diari harian berbentuk video, dirinya berkisah serta merekam setiap peristiwa yang terjadi di Gaza.
Mulai dari pemakaman massal, pesawat tanpa awak yang lalu-lalang, hingga kondisi seperti kebutuhan makan, minum, dan air bersih di sana. Video-video tersebut ia kirimkan ke media asal Britania Raya, Sky News. Ia juga beberapa kali mengabarkan di Facebook dan Instagram miliknya perihal kondisi terkini di Gaza.
Ada juga Bisan Owda, sutradara perempuan asal Palestina. Melalui format video dokumenter miliknya, Bisan aktif mendokumentasi kondisi terkini di Gaza. Unggahan miliknya pun mencapai ribuan bahkan jutaan penonton, yang ia sebar di berbagai akun media sosialnya.
Per artikel ini ditulis, pengikut Instagram-nya sudah mencapai 5 juta pengikut. Adapun akun TikTok miliknya memiliki 1,3 juta pengikut.
Atas dedikasinya, Bisan mendapatkan penghargaan Emmy Award pada akhir 2024, untuk video dokumenternya yang berjudul It’s Bisan from Gaza and I,m Still Alive. Video ini dibuat bersama AJ+ dan dirilis di YouTube.
Pada tahun yang sama, dokumenter tersebut juga mendapat penghargaan Peabody Award.
Tantangan Jurnalis Warga di Daerah Konflik
Menjadi jurnalis warga bukanlah pilihan mudah. Mereka mempertaruhkan nyawa setiap hari, bahkan tak jarang harus melihat rekan jurnalisnya terbunuh di depan mata. Belum lagi tumpukan mayat, darah, serta potongan tubuh yang harus mereka lihat setiap hari. Tentu ini akan berdampak pada kondisi mental mereka.
Mengutip Al-Jazeera, ada empat tantangan yang harus dihadapi oleh jurnalis warga di Palestina, yaitu:
1. Risiko Kematian
Mereka menjadi target dari moncong senapan, bom, bahkan tank milik tentara Israel. Banyak juga pemboman yang didokumentasikan berada di sekitar mereka.
Sejak 8 Oktober 2023 hingga 25 Desember 2024, tercatat 217 jurnalis dan pekerja media yang terbunuh di Gaza. Catatan tersebut melampaui angka gabungan pembunuhan terhadap jurnalis saat Perang Dunia I dan Perang Dunia II, Perang Vietnam, Perang Korea, Perang Yugoslavia, dan Perang Afghanistan.
2. Alat yang Terbatas
Sebagian besar alat yang mereka miliki hanya seadanya; ponsel dan kamera usang. Namun, terlepas dari kendala ini, mereka berhasil menghasilkan foto atau rekaman yang mampu menggugah penonton internasional.
3. Pemadaman Listrik dan Internet
Pemutusan layanan listrik dan internet yang disengaja oleh pemerintah Israel menciptakan hambatan signifikan bagi jurnalis warga untuk mengunggah informasi dan berbagi konten di media sosial.
4. Kurang Pelatihan Profesional
Sebagian besar jurnalis warga yang membuat dokumentasi tidak memiliki pelatihan dalam segi penulisan laporan dan fotografi. Walaupun demikian, spontanitas dan kejujuran dalam memberikan informasi membuat mereka mendapatkan tempat spesial di hati audiens.
Baca Juga: Tahun 2024: Tahun Mematikan bagi Jurnalis
Penulis: Fauzi Ibrahim
Fauzi Ibrahim; mahasiswa Sastra Arab, penggemar AC Milan, dan penikmat musik black metal dan turunannya