Apa yang Warga Inginkan dari Berita? Riset Tunjukkan Hasil Kontradiktif 

Gambar ilustrasi perempuan wartawan berkacamata sedang melaporkan peristiwa dengan latar belakang bertuliskan "world news" dan "news today".
Foto: Freepik

Hasil riset dan survei Pew Research Center pada 2025 menunjukkan hasil yang kontradiktif antara definisi berita yang dianggap ideal oleh masyarakat, dengan keinginan terhadap berita yang dikonsumsi. 

Berdasarkan hasil riset bertajuk What Is News? yang dilakukan pada 2024-2025 tersebut, ada empat poin paling menonjol yang harus dimiliki berita menurut para responden. Empat hal tersebut adalah harus berdasarkan fakta (85% responden), harus mengandung kebaruan (78%), bermanfaat bagi kehidupan masyarakat (68%), dan disajikan secara netral (68%). 

Riset ini dilakukan dengan tiga metodologi berbeda. Pertama dengan melakukan diskusi kualitatif secara daring pada 57 warga Amerika Serikat (AS) usia dewasa pada 26-30 Agustus 2024. 

Kedua, melakukan survei pada 9.482 warga AS usia dewasa pada 10-16 Maret 2025. Ketiga, dengan melakukan wawancara mendalam dengan 13 reporter dan editor pada 18 Juli hingga 6 September 2024. 

Meski begitu, saat ditanya tentang apa yang mereka inginkan dari berita, jawaban mereka terlihat kontradiktif dari definisi ideal mereka tentang berita. 

Misalnya saja, dalam penelitian kualitatif, para responden secara umum menginginkan berita yang hanya menyajikan fakta, tanpa komentar atau opini. Mereka menganggap informasi yang bias dan sensasional bukanlah termasuk berita. 

Namun pada survei yang dilakukan pada Maret 2025, masyarakat juga menganggap penting bahwa sumber berita atau narasumber memiliki pandangan politik yang sama dengan mereka. 

Berikutnya, mereka juga menganggap penting berita-berita “hard-news” yang umumnya terkait politik, konflik, ekonomi, dan kejahatan. Berita-berita ini sering kali bukan berita positif alias bad news.

Meski begitu, pada perilakunya, mereka ingin menghindari mengonsumsi bad news. “Kadang, aku tidak ingin mengetahuinya. Aku harap ada pilihan untuk hanya ada berita-berita yang positif,” ujar responden berusia 20-an tahun. 

Selain lebih menyukai berita yang isinya positif atau menyenangkan, beberapa responden mengatakan lebih menyukai berita human-interest yang sebenarnya tergolong “soft news”. 

Meski begitu, satu hal yang konsisten adalah para responden menginginkan transparansi dari institusi media dan dalam peliputan berita. Bagi sebagian responden, hal ini termasuk struktur kepemilikan media, donasi yang bersifat politis, hingga pandangan atau nilai yang dianut para jurnalis media tersebut. 

Baca Juga: Makan Siang yang Mengguncang Demokrasi

Penulis:  Fauzi Ibrahim

Fauzi Ibrahim; mahasiswa Sastra Arab, penggemar AC Milan, dan penikmat musik black metal dan turunannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *