Tips Jitu Konten Viral News Influencer untuk Jurnalis Berita 

News influencer bersiap membuat konten
Foto: George Milton/Pexels

News influencer atau influencer berita jadi salah satu sumber utama bagi generasi muda mencari informasi terkini. Media tradisional dan jurnalis bisa belajar dari cara mereka membuat konten agar bisa terus berkembang mengikuti zaman.

Berdasarkan Pew Research Center, news influencer adalah individu yang mengunggah peristiwa dan isu-isu sosial secara reguler melalui media sosial, dan setidaknya memiliki 100 ribu pengikut di Instagram, Facebook, TikTok, atau X (Twitter). Sosok-sosok ini kerap membuat konten yang sampai viral, hingga dianggap sebagai ancaman bagi media tradisional seperti media daring dan TV.

Dari laporan 2025 Digital News Report di Indonesia, sebanyak 79% responden memilih media daring untuk mencari berita terkini. Media daring di sini mencakup media berita daring, media sosial, siniar, dan percakapan dengan AI. Adapun 57% mencari di media sosial, dan hanya 44% yang melihatnya di TV.

Beralihnya masyarakat dalam mencari berita terkini dari media tradisional ke media sosial – salah satunya lewat news influencer – juga terjadi di Amerika Serikat dan berlaku secara global. Mantan jurnalis BBC yang kini menjadi solo creator, Sophia Smith Galer, mengatakan bahwa media tradisional akan kalah jika hanya mengandalkan strategi memindahkan konten di situs web ke media sosial.

“Kita harus terjun langsung sebagai individu jika ingin mengambil perhatian di sana,” ujar Galer, mengutip dari artikel berjudul TikTok Boom! yang ditulis oleh Ben Reininga dan Ryan Y. Kellett, dan terbit di situs web Nieman Reports. Kedua penulis baru saja menyelesaikan satu tahun di Harvard sebagai rekan peneliti di Nieman Foundation for Journalism dan Berkman Klein Center for Internet and Society

Keduanya membuat penelitian yang menekankan pada cara news influencer mempraktikkan keahlian mereka, dan pelajaran yang bisa diambil oleh industri media dari mereka. Secara khusus, mereka mendalami cara audiens berinteraksi dengan news influencer, dan bagaimana konten tersebut berhasil pada saat media tradisional terus terpuruk.

Dalam penelitiannya, Ben memilih peristiwa penangkapan mahasiswa pascasarjana Universitas Columbia, Mahmoud Khalil, warga negara AS yang sah, pada Maret lalu oleh otoritas imigrasi. Ia ditahan di New York City sebagai bagian dari kebijakan Presiden Trump terhadap mahasiswa yang berpartisipasi dalam protes kampus menentang kekerasan di Gaza.

Ben dan rekan-rekannya menyisir ratusan laporan di TikTok tentang kasus Khalil, mengurutkannya ke dalam berbagai kategori dan menandainya berdasarkan karakteristik seperti gaya video, interaksi langsung ke kamera, latar belakang pengambilan gambar, nada suara, dan pilihan kata.

Dengan menggunakan rumus untuk menganalisis seberapa baik kinerja video-video tersebut, Ben menemukan bahwa banyak video yang viral itu merupakan obat penawar dari yang tidak audiens dapatkan dari media tradisional.

Pelajaran dari News Influencer untuk Media Tradisional

Ben menguraikan temuan-temuannya itu ke dalam serangkaian kata sifat yang kontras, yang menggambarkan bagaimana perasaan pengikut news influencer tentang media tradisional dibanding dengan konten berita di media sosial, seperti berikut ini:

1. Elite vs. Intim

2. Bias vs. Transparan

3. Terlalu rumit vs. Sederhana dan Terbuka

4. Membuat Tidak Nyaman vs. Menyenangkan

5. Tidak Relevan vs. Beragam dan “Seperti Saya”

Rekan penulis Ben, Ryan, yang mengembangkan kurikulum bagi mereka yang bertransisi “dari ruang redaksi tradisional ke ranah kreator” dan membantu jurnalis memperkuat karya mereka di media sosial, juga memberikan hasil penelitiannya terkait konten-konten yang viral tersebut.

Berikut ini formula atau tips yang diterapkan dalam konten viral para news influencer tersebut:

1. News Influencer Terasa Seperti Teman Dekat

Gaya dan cara bicara news influencer memberi kesan bahwa kita bisa menanyakan apa saja kepeda mereka. Mereka juga memberikan sekilas kehidupan pribadi mereka yang sering kali relevan dengan berita yang mereka informasikan. Ini sekaligus juga membantu menciptakan ikatan atau kesamaan nasib dengan audiens.

“Saya menggunakan bahasa yang mudah dipahami orang. Bahasa sehari-hari. Saya tampil sangat membumi dan informal; saya tidak mengenakan setelan jas. Orang-orang berpikir: ‘Orang ini bagian dari komunitas dan berbicara tentang isu-isu yang menjadi perhatiannya,” ujar Carlos Eduardo Espina, salah satu news influencer yang paling banyak ditonton di TikTok lewat konten-konten tentang imigrasi.

Espina tidak menyebut dirinya sebagai jurnalis, meskipun ia pernah meliput berita terkini. Ia menyebut dirinya melakukan proses pelaporan hibrida, yang menggabungkan pengumpulan informasi dari media arus utama dan sumber lainnya yang ia kumpulkan.

2. News Influencer Mengikuti Gaya dan Bahasa Platform

Mereka mengikuti irama, gaya penyuntingan, dan bahasa platform sosial tempat mereka mengunggah kontennya. Sering kali mereka juga merujuk pada lelucon internal atau meme viral di aplikasi tersebut.

Mereka juga, misalnya, menggunakan fitur layar hijau di TikTok atau Instagram Reels untuk menempatkan gambar potongan diri mereka yang berantakan di atas video yang sedang mereka diskusikan, sengaja dibuat berbeda dengan tampilan rapi di berita TV.

Taktik populer lainnya, misalnya, adalah mengunggah video dari kamar tidur atau mobil (tempat yang tenang dan nyaman untuk merekam audio dengan jernih), dengan kreator mengenakan pakaian sehari-hari dan berbicara dengan gaya kasual dan jujur selayaknya bicara dengan teman.

3. News Influencer Punya Ciri Khas Masing-Masing

Mereka juga kerap memiliki tanda khas secara visual atau verbal, misalnya seperti kalimat pembuka atau penutup yang berkesan dan menonjol. Ada juga yang menggunakan panggilan khusus untuk para pengikutnya.

Meski dibawakan secara kasual, tapi isi kontennya tetap bisa membicarakan topik yang serius.

4. News Influencer Berinteraksi langsung dengan Audiens

Mereka kerap memanfaatkan komentar penonton sebagai pemicu untuk membuat video lanjutan. Hal ini meningkatkan kesan bahwa berita tersebut disampaikan oleh “seseorang seperti saya,” dan bahwa pembuat konten tersebut dapat diakses secara langsung.

Hal ini mungkin bertentangan dengan norma media arus utama, tetapi sangat beresonansi dengan generasi muda yang mengonsumsi berita.

Ben dan Ryan tidak menganjurkan media tradisional untuk mengganti bentuk jurnalisme yang sudah mereka lakukan. Namun, mereka mendesak industri media untuk lebih giat beradaptasi dan menciptakan konten berita khusus di platform sosial – bukan sekadar memindahkan konten di situs web – sebagai bagian integral dari strategi keberlanjutan jangka panjang yang lebih luas agar tak terus kehilangan audiens.

Baca Juga: News Influencer, Ancaman atau Tantangan Buat Jurnalis? 

Penulis: Herita Endriana

Herita Endriana; senang berbagi pengetahuan dan menonton apa pun, termasuk nonton video kucing

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *