Pada 1997, organisasi yang kemudian dikelola oleh Project for Excellence in Journalism (PEJ) memulai pembicaraan nasional perihal prinsip-prinsip yang mendasari jurnalisme.
Diskusi tersebut berjalan selama empat tahun, dan melibatkan 20 forum diskusi publik di beberapa negara, serta survei nasional yang berisikan para jurnalis. Diskusi ini akhirnya melahirkan sembilan prinsip jurnalisme, yang kemudian direvisi menjadi 10 pada 2007.
Prinsip-prinsip ini juga menjadi basis lahirnya The Elements of Journalism; buku karya jurnalis yang dihormati Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Sampai saat ini, buku tersebut kerap menjadi ‘kitab suci’ bagi jurnalis. Berikut adalah 9+1 prinsip jurnalisme, mengutip dari tomrosenstiel.com.
10 Prinsip Jurnalisme
1. Kewajiban Pertama Jurnalis adalah Mencari Kebenaran
Demokrasi bergantung pada warga yang mendapatkan fakta yang akurat dan tepercaya, dan diletakkan dalam konteks yang tepat sehingga memiliki makna. Jurnalistik kebenaran (truth journalistic) pada hakikatnya tidak mengejar kebenaran yang diartikan secara absolut atau filosofis, melainkan secara praktik.
Jurnalistik kebenaran bisa diartikan sebagai disiplin profesionalitas, seperti mengumpulkan dan memverifikasi data. Kemudian jurnalis dapat menyampaikannya secara adil dan dapat diandalkan untuk kebutuhan investigasi lebih lanjut.
Selain itu, jurnalis harus setransparan mungkin perihal sumber dan metode yang digunakan. Ini agar audiens bisa menilai sendiri informasi yang disajikan.
Walaupun kita hidup di dunia dengan suara-suara yang terus berkembang, akurasi tetap menjadi fondasi utama untuk membangun konteks, interpretasi, komentar, kritik, analisis, dan debat. Seiring berjalannya waktu, kebenaran akan muncul dari forum-forum tersebut.
2. Berpihak Kepada Warga adalah Hal yang Utama
Jurnalis harus mempertahankan kesetiaan kepada warga dan kepentingan publik di atas segalanya, bukan condong pada pengiklan atau kerabat. Hal ini menjadi basis dari kredibilitas sebuah media.
Komitmen kepada warga juga harus adil, tidak bias terhadap satu konstituen. Ini agar kredibilitas yang ditampilkan nantinya dapat membangun audiens yang organik, luas, dan loyal. Dengan begitu, para pemilik industri media terus menjaga hubungan baik dengan publik di atas konstituen yang lain.
3. Secara Hakikatnya, Jurnalistik adalah Ilmu Disiplin Verifikasi
Jurnalis bertumpu pada profesionalitas untuk memverifikasi sebuah informasi. Mereka tidak terbebas dari prasangka atau bias. Oleh karena itu, metode kerja jurnalistiknya harus objektif.
Profesionalitas mencakup cara jurnalis mencari narasumber dan informasi. Disiplin verifikasi adalah pemisah antara jurnalisme dengan bentuk-bentuk komunikasi yang lain, seperti propaganda, fiksi, dan hiburan.
4. Jurnalis Harus Memiliki Kebebasan dari Sumber yang Mereka Liput
Kebebasan adalah pondasi awal dari jurnalisme. Kebebasan jiwa dan pikiran, bukan hanya netralitas, adalah prinsip yang mesti dijaga oleh jurnalis.
Walaupun editorial dan komentator tidaklah netral, tapi sumber dari kredibilitas mereka tetap bertumpu pada akurasi, kejujuran intelektual, dan kemampuan untuk menyampaikan informasi. Bukan bersumber dari kesetiaan mereka kepada hasil dan kelompok tertentu.
5. Jurnalis Harus Menjadi Pemantau Kekuasaan yang Independen
Jurnalis memiliki posisi yang spesial sebagai anjing penjaga; yang mengawasi jalannya pemerintahan dan siapa pun yang memiliki pengaruh pada masyarakat. Dengan kebebasan, yang dijaga oleh undang-undang, jurnalis bisa melawan despotisme yang ada.
Meski begitu, para jurnalis diimbau agar tidak menyalahgunakan keuntungan posisi tersebut, entah dengan cara mengeksploitasi atau pun mencari keuntungan komersial semata.
6. Jurnalisme Wajib Menyediakan Forum Kritik dan Komentar untuk Publik
Diskusi baik dikonsumsi oleh publik, karena berisi fakta, bukan prasangka. Selain itu juga berfungsi sebagai representasi dari banyaknya sudut pandang dan kepentingan yang ada di tengah masyarakat.
Akurasi dan kejujuran mewajibkan setiap perumus diskusi publik tidak boleh mengabaikan poin-poin persamaan dasar yang mungkin bisa menjadi sumber pemecahan masalah.
7. Jurnalisme Harus Berusaha untuk Membuat yang Signifikan Menjadi Menarik dan Relevan
Jurnalisme adalah storytelling dengan tujuan, sehingga harus pandai mengelola data yang ada dibanding hanya mengumpulkannya. Sebagai industri berita, mereka juga harus mengetahui apa yang diinginkan oleh pembacanya, dan apa yang tidak, tapi penting bagi pembacanya.
Singkatnya, mereka harus membuat yang penting menjadi menarik dan relevan. Ini karena efektivitas sebuah jurnalisme dapat diukur dari seberapa banyak sebuah karya melibatkan dan mencerahkan audiensnya.
8. Jurnalisme Harus Menjaga Berita yang Komprehensif dan Proporsional
Jurnalisme adalah kartografi; menciptakan peta untuk masyarakat demi menavigasi jalan kehidupan. Sebuah peta harus menyediakan seluruh kepentingan dari setiap komunitas, bukan hanya berfokus pada mereka yang memiliki demografi yang paling menarik.
Menggelembungkan peristiwa demi sekadar sensasi, mengabaikan hal yang lain, membuat stereotipe atau bersikap negatif, secara disproporsional hanya akan membuat peta tersebut kurang dapat diandalkan.
9. Jurnalis Harus Diizinkan untuk Menyuarakan Suara Hati Mereka
Setiap jurnalis harus memiliki kompas moral; etika dan tanggung jawab pribadi. Para jurnalis harus berani mengutarakan perbedaan, jika memang keadilan akurasi dibutuhkan, baik itu di ruang redaksi maupun di ruang eksekutif.
Ini penting untuk merangsang keragaman intelektual dan memahami secara akurat perbedaan di tengah masyarakat yang semakin beragam. Ini adalah keragaman pikiran dan suara yang penting.
10. Masyarakat Punya Hak dan Tanggung Jawab untuk Setiap Berita
Dalam era banjir informasi, berita dan informasi bisa ditemukan di mana saja. Jurnalis tidak lagi menjadi penjaga gerbang, yang memutuskan apa yang sebaiknya diketahui dan tidak diketahui oleh publik.
Kini, individu bermain peran jurnalisme, menjadi editor dan manajer untuk dirinya sendiri. Mereka bebas menulis dan membagikan sesuatu kepada khalayak melalui media sosial. Mereka telah menjadi manajer dan editor untuk dirinya sendiri.
Sebagai adaptasi dari pola baru tersebut, kini jurnalis harus memverifikasi setiap informasi yang dipublikasikan oleh publik. Mereka juga turut bertugas menyajikan informasi yang diinginkan oleh masyarakat, serta memberi makna pada hal tersebut.
Baca Juga: Skeptisisme: Modal Dasar Menjadi Jurnalis
Penulis: Fauzi Ibrahim
Fauzi Ibrahim; mahasiswa Sastra Arab, penggemar AC Milan, dan penikmat musik black metal dan turunannya