Tips dari, oleh, dan untuk Wartawan Pemula

Foto wartawan mengejar narasumber
Foto: Long Bà Mùi/Pexels

Sesuai dengan judulnya, artikel ini akan membahas tips atau kiat-kiat menjadi wartawan pemula. Sebelum membaca lebih lanjut, alangkah lebih baik apabila dipahami terlebih dahulu bahwa tips ini ditulis dari, oleh, dan untuk wartawan pemula. Karena ditulis oleh orang yang baru jadi wartawan selama tiga bulan, beberapa bahasan akan relevan dengan pengalaman sebagian wartawan, sedangkan beberapa lainnya mungkin tidak. 

Lalu, apa sajakah tips dari, oleh, dan untuk wartawan pemula? Mari kita simak bersama.

1. Banyak Membaca

Ketika memulai hal baru, kewajiban pertama kita adalah membaca, membaca, dan membaca. Tidak hanya membaca buku, media massa, dan media sosial, tetapi juga membaca fenomena alam yang terjadi di sekitar. Dengan membaca, pengetahuan dan kepekaan diri terhadap hal-hal di sekitar kita akan meningkat. Kemudian, kita dapat menuangkan hasil pembacaan kita menjadi sebuah artikel yang berkualitas.

2. Banyak Bertanya

Selain banyak membaca, banyak bertanya pun perlu. Masih ingat dengan pepatah Malu bertanya sesat di jalan, kan? Pepatah ini juga berlaku ketika menjadi wartawan, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman. Dengan bertanya, berbagai informasi dan pendapat pribadi tokoh mengenai suatu hal dapat kita ketahui. Berbagai artikel dapat ditulis wartawan dengan mencantumkan pendapat narasumber yang berkaitan. Pendapat tersebut digali melalui wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai. 

Satu yang paling mengena, atasan saya pernah berkata, “Jangan pernah malu atau sungkan untuk bertanya. Saya akan menganggap kamu bisa dan mengerti semuanya karena tidak pernah bertanya”. Semenjak itu, saya menjadi sedikit cerewet apabila menemui hal-hal yang belum saya ketahui.

3. Selalu Belajar

Sebagai wartawan, apalagi pemula, belajar harus selalu dilakukan. Belajar menemukan berita yang aktual, menyusun artikel yang berkualitas, membuat daftar wawancara yang menggali banyak informasi, dan belajar hal-hal lain yang sesuai dengan kapasitas wartawan. Konsep learning by doing harus selalu dijunjung tinggi. 

Teringat kembali perkataan atasan saya, “Jika kamu tidak mau belajar, maka saat itu kamu sudah merasa bisa. “Merasa bisa” tentu berbeda dengan “bisa” dalam artian sebenarnya. Lalu ketika artikel sudah jadi, ada kesalahan yang seharusnya tidak terjadi apabila mau belajar sebelumnya. Katanya, “Ini berarti memang kamu tidak mau belajar, dan saya tidak bisa mengubah itu”. Pernyataan itu cukup mengejutkan dan mengubah pola pikir saya agar terus belajar. 

4. Perbaiki Komunikasi

Komunikasi yang baik di sini maksudnya komunikasi yang terjalin antara wartawan dan atasan, sesama wartawan, juga antara wartawan dengan narasumber. Sebagai wartawan yang baik, komunikasi mestinya dilakukan dengan jujur dan jelas. Informasikan atasan sesegera mungkin apabila ada sesuatu yang menjadikan kita tidak dapat menghadiri suatu acara atau kegiatan. Hal ini perlu dilakukan agar wartawan pengganti dapat segera dicari. 

Selain itu, komunikasikan pula perkembangan berita yang sedang digarap kepada atasan. Apabila terdapat masalah, segera beri tahu atasan agar dapat mempertimbangkan untuk meneruskan penggarapan berita tersebut atau tidak. 

5. Jangan Malu untuk Berkenalan dan Membuka Pembicaraan

Jadi wartawan tidak boleh menutup diri. Bersifat terbuka, tidak malu untuk berkenalan, dan membuka pembicaraan dengan orang baru pun sangat diperlukan. Tidak jarang, beberapa artikel yang ditulis berdasarkan laporan rahasia dan hanya diketahui segelintir orang didapatkan wartawan ketika nongkrong. 

Selain itu, beberapa pernyataan jujur yang tidak pernah dikatakan di muka publik juga sering terlontar ketika ngopi atau makan siang. Walaupun beberapa di antaranya tidak mau namanya disebut dalam artikel, akan tetapi bukti fisik dokumen penting sudah cukup kuat untuk membenarkan pernyataan tersebut. 

6. Sabar

Selain lima hal yang sudah disebutkan sebelumnya, satu hal utama yang mesti dilakukan wartawan adalah sabar. Sabar dalam menjalankan tugas dengan waktu dan tempat tak terduga, sabar menyikapi narasumber yang baik maupun menjengkelkan, sabar menunggu kasus atau kejadian yang tidak kunjung usai, sabar tulisannya dikomentari editor, juga sabar apabila tulisan sampai tidak diterbitkan. Intinya harus selalu sabarlah, ya. 

Keenam hal tersebut hendaknya dilakukan baik oleh wartawan pemula maupun wartawan senior agar dapat menghasilkan artikel yang berkualitas.

Baca Juga: Cerita Tim AFP, Pewarta Dunia Terakhir di Wuhan

Penulis: Siti Masruroh

Siti Masruroh; alumni Sastra Jawa yang sebagian waktunya dihabiskan dengan belajar, baca, dan nulis biar nggak lupa.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *