5 Mitos tentang Jurnalisme Data yang Perlu Kamu Tahu

Foto laptop yang layarnya bergambar diagram dan infografik
Pixabay/Pexels

Jurnalisme data kerap disalahartikan sebagai hanya berita dengan kumpulan chart dan infografik. Padahal pekerjaannya lebih besar dari itu, yaitu membuat data jadi berarti dan menjadi sebuah cerita penting.

Jurnalisme data adalah karya jurnalistik yang berbasis pada analisis data dan interpretasi. Jadi bukan sekadar menyajikan kumpulan data tanpa makna. Hasilnya bisa berupa berita dengan diagram, infografik, peta, video, bahkan unggahan di media sosial.

Mengutip artikel Al Jazeera, berikut ini lima mitos yang melekat pada jurnalisme data; berdasarkan jawaban dari para jurnalis dari media massa asal Qatar tersebut.

  1. Jurnalisme Data Tidak Bersifat Personal
    Data yang diberi makna bukanlah sekadar statistik saja. Data ini adalah cerita yang berkaitan dengan hidup seseorang atau banyak orang. Bukan hanya itu, banyak cerita yang berbasis data mampu menempatkan kisah seseorang itu dalam konteks yang lebih luas, yang menggambarkan lingkungan dan negara tempatnya tinggal.

  1. Jurnalis Data Bukanlah Jurnalis Sungguhan, Mereka Hanya Tertarik pada Angka, Bukan Bercerita
    Faktanya, jurnalis data tidak sekadar mengamati angka dan mengindentifikasi tren. Mereka justru bisa menawarkan perspektif yang kreatif pada sebuah cerita hingga mampu menarik audiens yang lebih luas.

  1. Jurnalisme Data Hanya untuk Pemrogram dan Desainer
    Tidak dapat dimungkiri bahwa memiliki teknik dan kemampuan desain menjadi nilai tambah bagi seorang jurnalis data. Namun, itu hanya faktor penyokong saja. Sejatinya, pemahaman tentang ilmu editorial dan jurnalistik menjadi bagian penting kerja jurnalis data. Selama seseorang memiliki insting untuk menghasilkan cerita dan berkolaborasi dengan pihak lain, maka ia bisa menjadi jurnalis data yang hebat.

  1. Data Hanya Sekadar Membuat Diagram dan Infografik
    Walaupun sering berkutat dengan diagram dan infografik, tapi tanpa adanya penekanan cerita, maka sebuah artikel tidak bisa disebut sebagai karya jurnalisme data. Proyek jurnalisme data sudah sepatutnya mengungkapkan sebuah cerita berdasarkan data yang telah dikumpulkan.

  1. Jurnalisme Data Mahal dan Memakan Waktu
    Meskipun memang proyek investigasi memerlukan jangka waktu yang panjang serta data yang melimpah, tapi ada cukup banyak media massa yang mampu membuat karya jurnalistik yang melibatkan analisis dan penyajian data sederhana, dengan kualitas baik dan pengerjaannya relatif cepat.
    Misalnya saja Al Jazeera yang kerap mendapatkan penghargaan kategori jurnalisme data, para jurnalis datanya juga tetap bekerja menggunakan gawai, kamera, dan komputer guna memproduksi proyek jurnalisme data. 

Baca Juga: Penggunaan AI dalam Jurnalistik, Ciptakan Berita Format Baru

Penulis:  Fauzi Ibrahim

Fauzi Ibrahim; mahasiswa Sastra Arab, penggemar AC Milan, dan penikmat musik black metal dan turunannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *