Dalam melaksanakan tugasnya, acapkali jurnalis mendapat intervensi, baik dari pemegang kekuasaan, politisi, hingga pemangku bisnis. Mereka kerap mendapat berbagai macam bentuk ancaman, baik yang bersifat verbal atau nonverbal.
Atas dasar itu lahirlah Hari Kebebasan Pers Sedunia atau World Press Freedom Day sebagai bentuk refleksi dari kerja para wartawan yang tidak mudah. Pada 1993, PBB menetapkan tanggal 3 Mei sebagai Hari Kebebasan Pers Sedunia.
Menukil Cambridge Dictionary, kebebasan pers adalah ketika surat kabar, majalah, stasiun televisi, dan radio di suatu negara dapat mengungkapkan pendapat apa pun yang mereka inginkan, bahkan ketika mengkritik pemerintah sekalipun.
Kebebasan pers juga adalah esensi dari sistem demokrasi, sebagaimana yang dikatakan oleh Walter Cronkite, jurnalis asal Amerika Serikat. Kebebasan pers tidak hanya penting bagi demokrasi, tapi itu adalah bagian dari demokrasi.
Sejarah Lahirnya Hari Kebebasan Pers Sedunia
Pada 1991, banyak ancaman dan pembunuhan terhadap jurnalis dalam Perang Sipil Rakyat Afrika. Dari sini, sekelompok jurnalis Afrika berkumpul dan mengajukan banding pada konferensi United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) yang diselenggarakan di Ibu kota Namibia, Windhoek. Konferensi berlangsung dari 29 April-3 Mei.
Mereka membuat dokumen rekomendasi yang berisi tentang dasar-dasar peletakan pers, seperti pers yang bebas, independen, dan pluralistis. Dokumen tersebut dikenal dengan Deklarasi Windhoek, dan berjumlah 19 poin rekomendasi.
Walaupun dokumen tersebut diajukan pada 1991, tapi butuh waktu dua tahun untuk PBB menanggapi rekomendasi dan tuntutan tersebut, serta menetapkan per tanggal 3 Mei sebagai Hari Kebebasan Pers Sedunia. Penetapan tersebut terjadi pada sesi ke-26 Konferensi Umum UNESCO yang diadakan di Paris, Prancis, pada 1993.
Setiap tahunnya, perayaan Hari Kebebasan Pers Sedunia mengusung tema yang berbeda. Mengutip situs resmi UNESCO, Hari Kebebasan Pers Sedunia tahun ini, 2025, mengusung tema Reporting in the Brave New World: The Impact of Artificial Intelligence on Press Freedom and the Media.
Adapun dalam setiap perayaannya, akan dilangsungkan seminar, diskusi, serta penyerahan anugerah penghargaan Guillermo Cano World Press Freedom Prize. Pada tahun ini acara tersebut akan digelar pada 7 Mei 2025 di Bozar Brussels, Belgia.
Nilai dan Esensi Hari Kebebasan Pers Sedunia
Mengutip laman resmi PBB, peringatan 3 Mei hadir sebagai alarm penting bagi pemerintah ihwal komitmen mereka terhadap kebebasan pers. Selain itu 3 Mei juga menjadi simbol refleksi bagi rekan-rekan media tentang isu-isu kebebasan pers dan etika profesional yang setahun belakangan terjadi. Hari Kebebasan Pers Sedunia adalah kesempatan untuk:
- Merayakan prinsip-prinsip dasar kebebasan pers
- Meninjau indeks kebebasan pers di seluruh dunia
- Mempertahankan media dari serangan-serangan yang mengancam kebebasannya
- Memberi penghormatan kepada jurnalis yang telah kehilangan nyawa mereka dalam menjalankan tugas
5 Poin Penting Deklarasi Windhoek
- Sesuai dengan article 19 of the Universal Declaration of Human Rights, pendirian, pemeliharaan, dan pembinaan pers yang independen, pluralistik, dan bebas sangatlah penting untuk pengembangan dan pemeliharaan demokrasi dalam suatu bangsa, juga berguna untuk pembangunan ekonomi.
- Adapun maksud dari pers independen adalah pers yang bebas dari kontrol pemerintah, politik, ekonomi, dan setiap infrastruktur atau material penting untuk produksi dan penyebaran surat kabar, dan majalah.
- Adapun maksud dari pers pluralistis adalah pers yang bebas dari monopoli dalam bentuk apa pun, serta majalah dan surat kabar dapat merefleksikan setiap pandangan/opini masyarakat yang variatif.
- Dalam mewujudkan tren seluruh dunia ihwal demokrasi, kebebasan informasi dan ekspresi adalah hal fundamental dasar untuk memenuhi aspirasi manusia.
- Semua pendanaan harus bertujuan untuk mendorong pluralisme serta kemandirian pers. Dengan begitu media publik harus didanai hanya ketika terdapat jaminan secara konstitusional dari otoritas perihal kebebasan informasi, ekspresi, dan pers yang independen.
Baca Juga: AJI Catat 73 Kekerasan terhadap Jurnalis dan Pekerja Media pada 2024
Penulis: Fauzi Ibrahim
Fauzi Ibrahim; mahasiswa Sastra Arab, penggemar AC Milan, dan penikmat musik black metal dan turunannya