News Influencer, Ancaman atau Tantangan Buat Jurnalis? 

Orang melakukan siaran sebagai news influencer
Foto: Freepik

Survei Pew Research Center berjudul America’s News Influencers 2024 menemukan 1 dari 5 masyarakat dewasa Amerika mendapatkan berita secara reguler dari news influencers. Mereka bermunculan di media sosial seperti X, Facebook, YouTube, TikTok, dan lainnya.

Penyumbang angka terbanyak adalah mereka yang berusia di bawah 30 tahun (18-29 tahun). Ini sejumlah 37%  atau hampir setara dengan empat per sepuluh. 

Sementara itu, dalam laporan Nielman Lab berjudul Predictions for Journalism 2025, Associate Professor dan Co-Director Kantor Politik, Komunikasi, dan Media Universitas Alabama, Jessica Maddox, memprediksi tahun 2025 dengan fenomena “Influencers become journalist”. Ia menyebut Joe Rogan, podcaster asal Amerika, sebagai gejala dari berubahnya sistem media, tapi bukan menjadi akar dari penyebabnya. 

Setali tiga uang, Erika Marzano selaku Audience Development Manager Deutsche Welle, mengutip journalism.co.uk, berpendapat bahwa pada 2025 jurnalisme akan terus berubah dan berkembang menjadi lebih autentik, menggunakan pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat, dan meniru gaya kreator konten yang sesuai dengan anak muda. 

“Audiens sekarang, khususnya Gen Z, menyukai konten-konten yang berhubungan dengan mereka. Mereka lebih menyukai cerita-cerita yang dibawakan oleh individu, bukan institusi,” ujarnya. 

Apa itu News Influencer/Newsfluencer? 

MengutipPew Research Center, news influencer adalah individu yang mengunggah peristiwa dan isu-isu sosial secara reguler melalui media sosial, dan setidaknya memiliki 100 ribu pengikut di Instagram, Facebook, TikTok, atau X. Semua individu bisa menjadi news influencer selama tidak mengatasnamakan sebuah organisasi tertentu.

Sementara menurut Forbes, news influencer adalah kreator yang secara konsisten membagikan informasi/wawasan terkait peristiwa terkini dan isu-isu sosial melalui platform media sosial. Mereka muncul dengan latar belakang yang berbeda-beda, seperti kreator konten, mantan jurnalis, atau bahkan individu biasa. 

Alasan News Influencer Makin Digemari

Dalam survei Pew America’s News Influencers 2024, mayoritas responden (65%) mengatakan news influencers memberikan informasi yang mudah dicerna dibandingkan dengan media tradisional. Mereka dinilai membantu audiens untuk mengetahui dan paham akan isu-isu sekitar dan terkini.

Dari beberapa pengelompokan umur yang dilakukan dalam survei, sejumlah 72% warga dewasa usia 18-29 tahun mengaku news influencers membantu pemahaman mereka lebih baik terhadap suatu peristiwa. 

Selain itu, 7 dari 10 responden mengatakan berita yang mereka dapatkan dari news influencers cenderung berbeda dengan berita di media tradisional. Sebanyak 31% dari mereka juga mengaku memiliki rasa hubungan emosional dan koneksi pribadi dengan news influencers dibanding dengan media tradisional.

Mengutip Social New Desk, terdapat tiga faktor lain yang mengubah konsumsi berita masyarakat dari media tradisional ke news influencers. Pertama, pengaruh algoritma media sosial, yang memprioritaskan konten yang menarik perhatian atau viral. Konten yang dihasilkan oleh mereka acapkali mengalahkan konten-konten dari media tradisional.

Kedua, hilangnya kepercayaan terhadap media tradisional. Mereka menganggap news influencers seperti media alternatif, pemecah hegemoni media tradisional yang bias kepada penguasa.

Terakhir, video pendek yang menarik. Mereka pandai mengemas berita dengan potongan-potongan video dan visual yang menarik untuk audiens. Kondisi ini tentu menyesuaikan pasar yang kian menyukai format tersebut. 

Reuters Institute pada 2024 mengungkap bahwa news influencers menduduki posisi pertama pada platform YouTube (46%), Instagram (53%), dan TikTok (57%) dalam kategori Proportion who pay attention to each for news on each platform. Kondisi ini menempatkan jurnalis dan media berita berada satu peringkat di bawah mereka.

Model Bisnis News Influencer

Mereka tidak hanya sekadar hadir untuk membagikan konten secara cuma-cuma, tapi juga menggunakan skema paid subscription atau langganan berbayar. Audiens yang berlangganan akan mendapatkan penawaran khusus seperti konten eksklusif, liputan mendalam, serta investigasi.

Survei Pew America’s News Influencers 2024, menemukan X (85%) sebagai medium nomor satu untuk mereka menyebarkan konten-kontennya. Kemudian diikuti oleh Instagram (50%) dan YouTube (44%). Selain itu mereka juga menggunakan platform seperti Substack dan Beehiiv.

Strategi untuk Media Tradisional 

Mengutip Poynter, Co-Founder dan CEO Muck Rack, Gregory Galant, menganggap jurnalis tidak perlu khawatir terhadap fenomena maraknya kehadiran news influencer. Baginya, mereka adalah medium sekunder yang bersandar pada data-data jurnalis.

Ini artinya, jurnalis masih sebagai medium primer. Jurnalis masih memegang peran kunci dalam memproduksi berita. 

Selain itu, news influencers juga punya titik lemah, yaitu berita yang diunggahnya tidak melalui proses editorial yang ketat seperti di media tradisional. Dari survei Pew America’s News Influencers 2024 ditemukan bahwa tiga per empat news influencer (77%) tidak memiliki latar belakang bekerja di industri media.

Data UNESCO bertajuk Behind the Screens pada 2024 juga menemukan dua per tiga kreator konten tidak melakukan proses verifikasi sebelum menyebarkan kontennya. 

Jurnalis, lanjutnya, harus bisa melebarkan sayap mereka di berbagai platform media sosial, tidak hanya berhenti dalam kubangan situs web. Mereka bisa memperlebar cara komunikasi seperti melalui siniar, membuat video pendek di TikTok, serta menyebarluaskan berita pada semua platform media sosial.

Industri media juga dapat bekerja sama dengan news influencers untuk mengenalkan media mereka ke publik, serta memastikan informasi yang mereka buat tersampaikan dan dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Karena pada era sekarang, masyarakat lebih tertarik kepada individu, bukan brand

Baca Juga: Penggunaan AI dalam Jurnalistik, Ciptakan Berita Format Baru

Penulis: Fauzi Ibrahim

Fauzi Ibrahim; mahasiswa Sastra Arab, penggemar AC Milan, dan penikmat musik black metal dan turunannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *