Skeptisisme: Modal Dasar Menjadi Jurnalis

Empat simbol tanda tanya disertai sebuah buku dan pulpen di bawahnya
Foto: Leello The First/Pexels

Ketika sedang bingung serta kehabisan topik dan ide untuk menulis, saya coba mencari buku jurnalistik di toko buku bekas. Toko itu berlokasi di Jakarta Selatan, di sampingnya terdapat warung kopi yang teduh – bisa menjadi pilihan beristirahat di tengah kemacetan dan sibuknya pekerjaan, atau sekadar bersantai. 

Di sana, saya menemukan buku berjudul Jurnalisme Dasar, Seri Jurnalistik Kompas karya Luwi Ishwara, diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, 11 Januari, 2011. Dengan bujet Rp20.000, sesuai dengan kantong mahasiswa, saya memutuskan membeli buku tersebut.

Walau bercak kuning sudah menjamuri fisik buku, tapi bagi saya itu bukanlah suatu hal yang membuat dilema. Toh, isinya tetap sama, bukan?

Pada sampul buku itu tertulis, “Skeptis itulah ciri khas jurnalisme. Hanya dengan bersikap skeptis, sebuah media dapat hidup.” Namun, apakah memang demikian? Saya mencoba skeptis. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), skeptisisme adalah aliran atau paham yang memandang sesuatu selalu tidak pasti; meragukan dan mencurigakan. 

Skeptisisme menjadi pondasi dasar yang mutlak bagi jurnalis. Dengan sikap skeptis terhadap sumber yang didapat, memungkinkan para jurnalis menemukan suatu hal yang baru.

Lebih lanjut, skeptisisme juga berfungsi untuk mencari titik cerah (baca: kebenaran) dari kasus yang sedang ditangani.

Luwi Ishwara dalam bukunya tersebut mengatakan inti dari sikap skeptis adalah keraguan. Keraguan membuat orang akan bertanya, mencari, sampai mendapatkan kebenaran. Jadi, skeptisisme adalah bagian dari pekerjaan jurnalis.

Buku The Skeptic in the Newsroom karya Zvi Reich and Yigal Godler mengupas tuntas perihal skeptisisme dan mengapa jurnalis harus memiliki sikap tersebut. Buku dengan jumlah 44 halaman tersebut memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat digunakan oleh jurnalis ketika ingin memublikasikan berita.

Di buku tersebut juga tersurat pesan bahwa skeptisisme tidak berlaku hanya pada sumber informasi, tapi juga pada diri sendiri.

“Apakah informasi yang saya terima ini benar?”

“Kenapa hanya saya yang mendapat informasi ini?”

“Apakah informasi ini berkontradiksi dengan informasi yang saya temui sebelumnya?” 

“Ke mana saya harus mengonfirmasi kebenaran perihal informasi ini?” 

“Sudahkah saya mendapat berita ini secara menyeluruh?”

“Apakah judul berita ini berlebihan?” 

“Sudahkah saya mematuhi kode etik jurnalistik dalam penulisan?” 

Sikap skeptis yang dianut jurnalis terkadang menjadi salah kaprah bagi sebagian orang. Bagi mereka, itu sikap sinis, bukan skeptis.

Dalam KBBI, kata sinis bisa berarti bersifat mengejek dan memandang rendah atau tidak melihat suatu kebaikan apa pun dan meragukan sifat baik yang ada pada sesuatu.

Seorang pastor asal amerika Henry Ward Beecher mengatakan bahwa orang sinis adalah mereka yang tidak pernah melihat segala bentuk kebaikan dalam diri manusia, dan tidak pernah gagal mencari keburukan di dalamnya.

Tidak hanya itu, ia menjuluki orang sinis seperti burung hantu, waspada dalam kegelapan, tapi buta terhadap cahaya. Selalu mencari hama, dan tidak pernah melihat buruan yang mulia. 

Jadi, bedakanlah sikap skeptis dan sikap sinis. Tugas jurnalis adalah untuk mencari fakta, fakta, dan fakta. Memburu kebenaran. Bukan memaksa mencari-cari kesalahan.

Baca Juga: 10 Prinsip Menulis dari Robert Gunning, Penulis “The Technique of Clear Writing”

Penulis: Fauzi Ibrahim

Fauzi Ibrahim; mahasiswa Sastra Arab, penggemar AC Milan, dan penikmat musik black metal dan turunannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *