Mewawancarai narasumber bukanlah hal yang mudah. Hal ini membutuhkan jam terbang bertahun-tahun demi mendapatkan hasil yang maksimal. Namun, semua bisa dipelajari sedari sekarang.
Oriana Fallaci, jurnalis dan penulis asal Italia, mendeskripsikan wawancara sebagai cerita, yang tak jarang diwarnai dengan kejutan, konflik, dan ketegangan. Dirinya pun menganalogikan wawancara bak persiapan petinju naik ke atas ring.
Suatu hal yang wajar jika pewawancara merasa tegang ketika akan dan sedang mewawancarai narasumber. Apalagi ketika mereka tidak mempersiapkan bahan pertanyaan, melakukan riset, dan tujuan apa yang hendak dicapai. Bisa-bisa wawancara tersebut berujung gagal berantakan.
Untuk menghindari hal tersebut, perlu adanya persiapan yang matang. Mengutip Writers Digest, berikut sepuluh tips wawancara yang bisa dilakukan.
Tips Mewawancarai Narasumber
1. Buatlah Teknis Wawancara secara Matang
Teknis wawancara akan membuat semua alur berjalan teratur dan terencana. Teknis wawancara bisa berbentuk lokasi, medium wawancara (Zoom, telepon), dan durasi wawancara. Teknis wawancara yang dipersiapkan dengan baik akan membuat narasumber akan merasa nyaman.
2. Lakukan Riset
Pelajari dan riset tentang narasumbermu, misalnya latar belakang pendidikan hingga pernyataan-pernyataan yang pernah disampaikannya terkait topik yang ingin kamu tanyakan. Kamu juga bisa mencari tahu hobinya sebagai bahan pembuka percakapan atau untuk mencairkan suasana.
Dengan cara ini, kamu bisa menyesuaikan pertanyaan-pertanyaan agar mendapatkan respons yang diinginkan. Ingat, jangan keluar konteks dari topik atau informasi yang ingin kamu dapatkan.
3. Buat Deretan Pertanyaan
Buat daftar pertanyaan di buku catatan atau gawai. Mulailah dengan softball question; pertanyaan yang mudah dijawab. Seperti menanyakan kabar, keluarga, dan lain sebagainya.
Buatlah proses wawancara senyaman mungkin, tapi jangan juga terlalu kasual, dan hindari menggosip. Setelah itu ambil kendali proses wawancara sampai selesai.
4. Posisikan Dirimu sebagai Individu, Bukan Jurnalis
Pewawancara yang baik adalah mereka yang membuat nyaman narasumber, hingga mereka lupa bahwa kamu adalah seorang jurnalis.
Dengan hadir sebagai seorang individu biasa, mereka tidak akan membuat ‘tembok pembatas’ yang akan membatasi pernyataan mereka. Selain itu, jadilah individu yang berempati.
5. Hindari Membahas tentang Diri Sendiri
Hindari membahas perihal dirimu secara berlarut-larut. Biarkan narasumber menyelesaikan cerita mereka terlebih dahulu.
Selain itu, lakukan kontak mata yang cukup, dan jangan membaca catatan ketika mereka sedang bercerita.
6. Berilah Pertanyaan Terbuka
Hindari pertanyaan tertutup yang berakhir dengan jawaban “iya” dan “tidak”. Dibanding bertanya “Apakah kamu merasa takut pada waktu itu?”, lebih baik gunakan “Bagaimana perasaanmu ketika itu?”.
Jika dirasa kurang cukup menjawab, cobalah parafrasa pertanyaan tersebut, perbesar ruang lingkupnya. Karena memiliki data yang melimpah itu lebih baik.
7. Atur Tempo Wawancara
Jangan menyela celah kosong di akhir jawaban, meskipun terasa jeda sesaat. Ini karena siapa tahu, ada informasi penting yang belum sepenuhnya disampaikan.
Ada saatnya interupsi dibolehkan, tapi hanya ketika narasumber keluar jauh dari topik pertanyaan, dan ada pertanyaan follow-up yang penting untuk dijawab. Ketika jawaban yang diberikan dirasa kurang dimengerti, coba tanyakan kembali agar tidak terjadi kesalahpahaman apalagi salah penulisan berita.
8. Keluarkan Pertanyaan Penting di Akhir
Seperti alur pada cerita film, keluarkanlah pertanyaan pamungkas di akhir. Pertanyaan-pertanyaan dasar atau pondasi yang mengarah ke sana sebaiknya diutarakan sebelum menuju inti pertanyaan. Hal tersebut guna menjaga alur dan intensitas antara pewawancara dan narasumber.
9. Rekam Seluruh Isi Wawancara
Merekam seluruh isi wawancara merupakan hal yang penting. Dengan isi rekaman tersebut, kamu bisa mendengar kembali isi wawancara, dan memastikan apakah pernyataan yang diucapkan benar seperti yang kamu maksud atau tidak.
Pastikan narasumber tahu proses wawancara akan direkam. Selain itu rekaman juga bisa menjadi bukti ketika terjadi sengketa dalam berita.
10. Ucapkan Terima Kasih
Walau terlihat sepele, tapi jangan lupa mengucapkan terima kasih atas waktu dan informasi yang telah diberikan. Pastikan juga apakah masih ada informasi yang ingin disampaikan atau tidak.
Cek kembali pelafalan nama narasumber, organisasi, dan jabatan. Hindari salah ketik pada bagian tersebut.
Baca Juga: 5 Teknik Membuat Kutipan dalam Berita
Penulis: Fauzi Ibrahim
Fauzi Ibrahim; mahasiswa Sastra Arab, penggemar AC Milan, dan penikmat musik black metal dan turunannya