Herawati Diah, Pendiri Koran Berbahasa Inggris Pertama di Indonesia

foto Herawati Diah, tokoh pers Indonesia
Foto: Instagram @potretlawas_id

Herawati Diah mendirikan harian Indonesian Observer bersama suaminya, wartawan legendaris Burhanuddin Mohammad Diah (B.M. Diah), pada April 1945. Ini adalah surat kabar Indonesia pertama yang menggunakan bahasa Inggris.

Tak hanya jadi salah satu tokoh pers, Herawati juga berperan dalam menerjemahkan teks proklamasi ke dalam bahasa Inggris hingga bisa disebarkan ke luar negeri. Ia juga adalah perempuan pertama di Indonesia yang meraih gelar sarjana di Amerika Serikat.

Herawati lahir di Belitung, 3 April 1917 dengan nama lengkap Siti Latifah Herawati. Ia lahir dari pasangan Raden Latip yang seorang dokter, dan Siti Alimah.

Dalam buku biografinya yang berjudul Kembara Tiada Berakhir: Herawati Diah Berkisah, dikatakan bahwa ia adalah gadis yang tomboi. Ketimbang bermain dengan boneka, dirinya lebih suka memanjat pohon. Ia juga suka bermain tenis, bola basket, serta membaca buku.

Karier Jurnalistik

Sebelum berkiprah sebagai wartawan, Herawati menamatkan studinya di Cambridge University; dengan gelar sarjana sosiologi. Selama kuliah, dirinya rutin mengikuti kelas jurnalistik.

Ia juga pernah mencicipi bangku kelas jurnalistik di Stanford University. Ia lulus pada 1941, dan setahun berselang dirinya memutuskan kembali ke Indonesia.

Pascakepulangan, Herawati bekerja sebagai wartawan lepas di United Press International (UPI). Setelah itu, karena keterpaksaan, ia melanjutkan kariernya menjadi penyiar di radio milik Jepang, Hasokyoku.

Pada 1945, dirinya bergabung dengan Harian Merdeka yang didirikan oleh suaminya pada Oktober 1945. Karena menyuarakan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia, tak jarang surat kabar tersebut mendapat ancaman dari penjajah.

Sebelumnya, Herawati bersama sang suami dan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo mendirikan Indonesian Observer. Di luar itu, ia juga menjadi pendiri dan pemimpin redaksi majalah Keluarga.

Berkat peran besarnya dalam dunia pers, Herawati meraih penghargaan Lifetime Achievement dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Ia juga peraih Bintang Mahaputra Utama, penghargaan yang diberikan kepada individu yang secara luar biasa menjaga keutuhan, kelangsungan, dan kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Adapun sepanjang kariernya, ia banyak bertemu pemikir dan tokoh besar dunia, salah satunya ialah Mahatma Gandhi.

Penggerak Isu Kebudayaan dan Perempuan

Herawati pun aktif dalam bidang kebudayaan, di antaranya sebagai pencari dana untuk renovasi Candi Borobudur dan pemugaran Keraton Surakarta. Ia juga aktif di sejumlah organisasi seperti Yayasan Bina Carita Indonesia, Hasta Dasa Guna, Women’s International Club, Yayasan Bina Carita Indonesia, dan Lingkar Budaya Indonesia.

Dirinya juga bergerak dalam isu perempuan, baik isu sosial maupun dunia jurnalistik. Dalam isu jurnalistik, ia menyayangkan kurangnya emansipasi yang berlaku di lingkungan jurnalis.

Topik-topik yang remeh-temeh, menurutnya, selalu diberikan ke jurnalis perempuan. Sedangkan isu-isu hangat atau berita terkini selalu diberikan kepada kaum laki-laki.

Ia mendirikan organisasi perempuan Gerakan Pemberdayaan Suara Perempuan. Di sini, ia berperan sebagai advokat dalam isu-isu tentang perempuan.

Meski Herawati Diah telah wafat pada 30 September 2016, tapi kiprahnya bisa menjadi inspirasi bagi para perempuan yang ingin terjun ke dunia jurnalistik atau pekerjaan yang didominasi para pria.

Baca Juga: Penggunaan AI dalam Jurnalistik, Ciptakan Berita Format Baru

Penulis: Fauzi Ibrahim

Fauzi Ibrahim; mahasiswa Sastra Arab, penggemar AC Milan, dan penikmat musik black metal dan turunannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *