7 Hal Penting saat Gunakan Sumber Anonim dalam Berita

Gambar orang-orang tanpa identitas
Foto: Freepik

Penggunaan sumber anonim bukan hal baru dalam karya jurnalistik. Meski begitu, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan saat menggunakannya.   

Mengutip The Center for Public Integrity Journalism (CPIJ), sumber anonim adalah seseorang yang memberi sebuah informasi kepada jurnalis tanpa mengungkapkan identitasnya. 

Penggunaan sumber anonim dalam jurnalistik bukan tanpa perdebatan. Sebagian praktisi menilai sumber anonim sebagai medium jurnalistik yang diperlukan; karena sebuah berita tidak akan terwujud tanpanya, kendati demikian penggunaanya bukan tanpa pijakan. Sebagian lain berpendapat penggunaan sumber anonim secara berlebihan, juga penyalahgunaannya, dapat mengikis kepercayaan publik terhadap media. 

Temuan Paw Research pada 2020 tentang penggunaan sumber anonim dalam pemberitaan menemukan mayoritas penduduk dewasa Amerika Serikat (67%) tidak keberatan jika hal tersebut digunakan dalam kondisi yang memang memungkinkan. Sementara 18% penduduk mengaku menolak secara penuh, 15% tidak keberatan, dan 1% menolak. 

Dalam buku Warp Speed (Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, 1999) yang dikutip Andreas Harsono dalam situs webnya, ada tujuh kriteria atau panduan dalam menggunakan sumber anonim dalam berita. Tujuh kriteria tersebut adalah: 

1. Sumber Berada dalam Peristiwa

Artinya, ia menyaksikan sendiri, atau terlibat langsung dalam peristiwa tersebut. Sumber bisa merupakan pelaku, korban, atau saksi mata, dan perlu diingat, bahwa ia bukanlah orang yang mendengar peristiwa tersebut dari orang lain. 

2. Keselamatan Sumber Terancam bila Identitasnya Terbuka

Artinya, entah nyawanya, atau anggota keluarganya, anak, istri, orang tua, saudara kandung, akan terancam jika ia tidak menutup identitasnya. Sementara jika hubungan sosial dan pekerjaannya yang terancam, maka itu bisa diperdebatkan.

3. Motivasi Sumber Menutup Identitasnya, dan Tujuan Informasinya 

Jurnalis harus mengukur dan bertanya motivasi sumber memberikan informasi. Banyak ditemukan kasus, kondisi ini hanya ditujukan untuk balas dendam, menjatuhkan nama, dan lain sebagainya. Jurnalis harus pintar dalam kondisi ini, jangan malah menjembataninya. 

4. Noda Putih Integritas Sumber

Jangan berikan kesempatan kepada sumber yang sudah terbukti pernah berbohong atau menyalahgunakan status sumber anonim. Oleh sebab itu, penting menggali integritas sumber.  Biasanya makin tinggi jabatan seseorang, semakin sulit mempertahankan integritas dirinya, karena kepentingan semakin banyak.

5. Harus Seizin Atasan

Pemberian sumber anonim harus dilakukan dengan sepengetahuan atasan; yakni editor. Karena bagaimanapun juga, editor yang memikul tanggung jawab jika ada gugatan hukum dalam berita yang ditulis. Editor punya hak veto terhadap suatu berita, tapi editor pula yang harus masuk penjara atau membayar denda bila kalah di pengadilan.

6. Gunakan Lebih dari Satu Sumber Anonim

Redaktur Eksekutif The Washington Post Ben Bredlee pernah mengeluarkan aturan terkenal soal pemakaian sumber anonim. Dirinya hanya mau meloloskan sebuah keterangan anonim kalau sumbernya minimal dua pihak, yang independen satu dengan yang lain. Hal tersebut berguna untuk memverifikasi keterangan dari setiap narasumber. 

7. Buat Perjanjian bahwa jika informasi dari Sumber Anonim Menyesatkan, maka Perjanjian Keanoniman Bisa Dibatalkan

Buat perjanjian ketat dan sedetail mungkin dengan sumber anonim. Bila informasi yang dibeberkan itu terbukti bohong dan menyesatkan, maka nama mereka akan dibuka ke hadapan publik. Meskipun ini perjanjian yang berat dan bertele-tele, tapi jurnalis harus menjelaskan pada sumber ihwal persyaratan tersebut. 

Baca Juga: Penggunaan AI dalam Jurnalistik, Ciptakan Berita Format Baru

Penulis: Fauzi Ibrahim

Fauzi Ibrahim; mahasiswa Sastra Arab, penggemar AC Milan, dan penikmat musik black metal dan turunannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *